Home Sejarah Pulau Belitung

Sejarah Pulau Belitung

JEJAK SEJARAH KABUPATEN BELITUNG

BELITUNG DALAM BERITA CINA

Setidaknya ada dua sumber tertua yang menyebutkan keberadaan Pulau Belitung, yaitu sejarah Dinasti Yuan (1279-1368) Buku 210 dan Hsing-ch’a Shenglan (1436). Buku 210 Sejarah Dinasti Yuan mencatat kisah pelayaran armada Mongol yang dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing untuk menaklukan Jawa, atas perintah kaisar Kubilai Khan pada tahun 1292. Pada bulan januari 1293, angin yang sangat kuat mendamparkan mereka di sebuah pulau yang kemudian disebut Gou Lan/Kau-Lan (Belitung). DI tempat ini mereka memperbaiki kapal-kapal yang rusak lalu meneruskan perjalana ke Pulau Jawa. Sepulangnya dari Jawa, mereka singgah lagi di Kau-Lan dan meninggalkan sekitar 100 orang tentara yang sakit, yang kemudian bermukim di pulau ini. Berdasarkan ‘Catatan Umum Perjalanan di Lautan’ yang ditulis oleh Fei Hsin pada tahun 1436, Belitung masih dikenal dengan nama Kau-Lan. Diperkirakan penduduknya adalah keturunan tentara Mongol yang ditinggalkan di Kau-Lan pada tahun 1293.

TUMBUHNYA KERAJAAN_KERAJAAN LOKAL

Beberapa kerajaan lokal pernah tumbuh dan berkembang di Pulau Belitung, namun hingga saat ini belum diketahui di titik mana permukiman pertama kali bertumbuh. Institusi kerajaan yang pertama muncul dari bagian tengah pulau Belitung pada suatu tempat yang kini bernama Pelulusan, sekitar abad XVI.

KERAJAAN BADAU

Diyakini sebagai kerajaan yang pertama di Belitung, dirintis oleh seorang bangsawan Majapahit bernama Datuk Moyang Geresik, di kaki Gunung Badau, sekitar abad XVI. Wilayah kerajaan ini meliputi Badau, Ibul, Bangek, Bantaian, Simpang Tiga, bahkan hingga ke Buding, Manggar dan Gantung di Belitung Timur.

KERAJAAN BALOK

Cikal bakal kerajaan Balok dirintis oleh Ronggo Udo alias Kyai Ronggo, pada akhir abad XVI. Balok kemudian berkembang demikian pesat dibadingkan Badau, bahkan Bandar Balok (pelabuhan) telah disinggahi kapal-kapal dagang asing. Sejak awal pusat kerajaan ini terus berpindah, mula-mula di hulu sungai Balok, bagian selatan Pulau Belitung yang kini termasuk Wilayah Kabupaten Belitung Timur. Pada masa Depati Tjakraningrat II (1661-1696) pindah ke Balok Baru / Tebing Tinggi. Pada masa Depati Tjakraningrat VI (1755-1785) pusat kerajaan berpindah ke Tanjung SImba / Kota Tanah di tepi sungai Cerucuk, dan kini menjadi Kampung Cerucuk. Pada masa Depati Tjakraningrat VII (1785-1813), kerajaan ini dihancurkan oleh Tengku Akil dari Siak. Tahun 1838, KA Rahad / Depati Tjakraningrat VIII (1838-1854) telah berkedudukan di Kampung Gunong, sekitar Jalan Merdeka Tanjungpandan. Tahun 1854 beliau digantikan oleh KA Muhammad Saleh, bergelar Dipati Tjakraningrat IX (1854-1873), yang membuka pemukiman di Kampung Ume, kemudian disebut kampung Raje, disekitar Masjid Al Mabrur dan Jalan Rahad, Tanjungpandan.

KERAJAAN BELANTU

Kerajaan Belantu diperkirakan muncul bersamaan dengan meluasnya pengaruh Islam di Belitung pada akhir abad XVII- awal abad XVIII. Didirikan oleh Datuk Ahmad bergelar Datuk Mempawah (1705-1741), dari kalimantan Barat. Pada mulanya pusat kerajaan terletak di Kaki gunung Luday, dan wilayahnya disebut Belantu. Kerajaan ini kemudian menjadi wilayah Ngabehi dari Kerajaan Balok dan keturunan mereka bergelar Kyai Agus. Pada masa pemerintahan KA Deraip (1851-1870) pusat pemerintahan dipindahkan dari Luday ke Membalong.

KERAJAAN BUDING

Kerajaan buding berkembang pada akhir abad XVIII berdasarkan tanda pengenal Ngabehi Buding yang berangka tahun 1799. Didirikan oleh seorang ulama yang karena cara kematiannya dinamakan Datuk Kemiring Wali Raib. Beliau mangkat dengan cara “menghilang” tanpa suatu sebab dan tidak diketemukan jasadnya.

KEDATANGAN ISLAM

Masuknya Islam ke Belitung diperkirakan bersamaan dengan kedatangan pendiri-pendiri kerajaan pertama di Belitung. Datuk Moyang Geresik, pendiri Kerajaan Badau berasal dari daerah Gresik, Jawa Timur, tempat ditemukannya makam Islam pertama di Indonesia. Menurut Ki’ Djohar (generasi ke -10 Raja Badau), Datuk Moyang Geresik juga pernah berguru pada Sunan Giri.Makam Datuk Moyang Geresik yang terletak di puncak Gunung Lilangan, jelas menunjukkan pengaruh tersebut. Sementara itu Kyai Mashud yang kemudian menjadi Depati Tjakraningrat I adalah seorang bangsawan keturunan Mataram Islam di Jawa Tengah. Namun pada periode ini, ajaran Islam belum tersebar secara luas. Awal abad XVIII, tepatnya pada masa pemerintahan Depati Tjakraningrat IV (1700-1740), ulama-ulama Pasai mulai memasuki Belitung dan menyebarkan ajaran Islam ke berbagai pelosok Pulau Belitung. Salah satunya adalah Sayid Hasan bin Abdullah alias Syech Abubakar Abdullah, dengan muridnya yang terkenal, Tuk Kundo. Beberapa makam kuno yang ditemukan di berbagai tempat di Belitung diantaranya Tuk Bidare Pute di Gunung Riting, Tuk Semandi di Aik Batu Buding, Datuk Pasip di Padang Kelarin, Sungai Padang, merupakan makam-makam penyebar Islam lainnya. Bahkan bentuk dan motif hias nisan-nisan di Situs Padang Kelarin menyerupai nisan-nisan type Aceh. Mesjid pertama di Belitung dibangun di Badau, dipelopori oleh Syech Abubakar Abdullah.Kemudian di Belantu dan Buding.Mesjid Belantu diduga terletak di Situs Balai Lu, Gunung Riting di mana masih ditemukan fragmen yang menyerupai kemuncak masjid.

KOLONISASI PULAU BELITUNG

EKSPLORASI TIMAH

Adalah John Francois Loudon, orang Belanda pertama dan orang kepercayaan Prins Hendrik, yang menemukan dan merintis penambangan timah Belanda di Belitung tahun 1851. Pada 23 Maret 1852, Belitung mendapat konsesi penambangan timah, terpisah dari Bangka. Konsesi ini menandai penambangan timah secara modern pada tingkat yang terorganisir di Belitung.Dengan bantuan kuli-kuli tambang Cina (xinke), timah pertama kali ditambang di sungai Siburik dan Air Lesung Batang.

PEMERINTAHAN KOLONIAL DI BELITUNG

Awal abad XIX, Belitung dan Bangka jatuh ke tangan Inggris menyusul kekalahan Palembang tahun 1812. Inggris lalu menempatkan Raja Akil sebagai penguasa Pulau Belitung.Belitung kemudian menjadi jajahan Belanda berdasarkan Traktat London 1814, namun roda pemerintahan Belanda baru berjalan pada 1823, dengan dibangunnya benteng di Tanjung Simba, kemudian Tanjungpandan. Pada 1 Juli 1838, Belanda mengakui secara sah KA Rahad sebagai Raja Belitung, bergelar Depati Tjakraningrat VIII (1838-1854). Depati membangun permukiman di Kampong Gunong dan mulai mengembangkan kawasan ini menjadi cikal bakal kota Tanjungpandan masa kini. Tahun 1851 timah ditemukan dan Belanda segera menambang di Bleitung. Tahun 1953, bersamaan dengan dimulainya penambangan, Dielwart ditempatkan sebagai asiten residen yang membawahi pejabat-pejabat pemerintah. Tahun 1890 dibentuk distrik-distrik berdasarkan wilayah penambangan, yang bertanggung jawab kepada districthooofd. Tahun 1924 dibentuk kelurahan-kelurahan yang terdiri atas 2-3 kampung, sementara di kampung-kampung diangkat mandor-mandor untuk mengawasi pertambanga, yang juga bertanggung jawab kepada kelapa distrik. Tahun 1927 pangkat kepala distrik dihapuskan dan Belitung dijadikan satu distrik yang dikepalai oleh seorang demang. Tahun 1933 belitung menjadi wilayah onder-afdeling dari Bangka yang dikepalai oleh seorang kontrolir pangkat wakil asisten residen. Tahun 1935, Belitung dibagi menjadi distrik Belitung Barat dan Belitung timur yang masing-masing dikepalai oleh seorang demang.

KEBANGKITAN KOTA-KOTA

Meskipun sebelumnya Kerajan Balok telah membagi Belitung atas wilayah-weilayah Ngabehi, namun yang kemudian berkembang adalah wilayah distrik yang dibentuk oleh pemerintah kolonial, yaitu (1) Tanjungpandan, (2) Buding, (3) Manggar, (4) Gantung/Lenggang, (5) Dendang. Kota-kota ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan insfratruktur untuk menunjang kelancaran aktivitas penambangan dan menjamin keberlangsungan hidup penduduknya. Di setiap distrik dibangun emplasemen perusahaan, perkantoran permerintah, dan berbagai bangunan publik dengan fasilitas listrik, ledeng, telefon dan telex. Jalan-jalan darat menghubungkan antar distrik yang dirintis sejak 1852 mendorong tumbuhnya permukiman di sepanjang jalur tersebut.

Kebangkitan kota-kota juga mendorong terjadinya ledakan penduduk khususnya kaum pendatang. Yang terbesar adalah imigran Cina yang didatangkan ke Belitung untuk menjadi kuli kontrak di pertambangan. Selain itu banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang lalu menjadi saudagar kaya. Orang-orang Eropa khususnya Belanda merupakan kaum minoritas namun sangat mendominasi. Diantara kedua kelompok ini, terdapat golongan indo dan kaum peranakan.

Sejak awal, Tanjungpandan adalah pusat wilayah dan menjadi distrik yang paling berkembang. Di sini berkedudukan asisten residen, depati, dan ‘tuan kuase’. Pada masa ini terbentuk empat konsentrasi pemukiman di Tanjungpandan, yakni :

  • Pemukiman kaum bangsawan, meliputi Kampong Gunong yang dirintis oleh KA Rahad, dan Kampong Ume/ Kampong Raje yang dibuka oleh KA Moh. Saleh;
  • Pemukiman birokrat Belanda di emplasmen pemerintah sekitar Padang miring dan Benteng Kuehn, yang masih termasuk kawasan Kampong Gunong;
  • Pemukiman Belanda pejabat dan pegawai perusahaan timah di Kampong Pandan, sekitar kawasan Tanjung Pendam sekarang.
  • Pemukiman Tionghoa yang disebut Kampong llir di muara Sungai Siburik, sekitar pelabuhan dan pusat kota yang disebut Pasar Atas.

Pemukiman penduduk lainnya tumbuh dan berkembang mengitari keempat daerah tersebut. Kantor pusat NV Biliiton Mij dibangun di pusat kota Tanjungpandan dan menjadi civic center hingga sekarang. Dahulu tepat di depan kantor ini terdapat stanplaats, pangkalan kendaraan umum yang menuju distrik-distrik, dan menjadi titik nol kilometer bagi jalan-jalan yang menuju ke distrik-distrik tersebut.

Distrik lain yang juga sangat berkembang adalah Manggan dan menjadi kota besar kedua di Belitung setelah Tanjungpandan pusat wilayahnya terletak di Bukit Samak, tempat terletaknya perkantoran pemerintah dan emplasemen perusahaan. Bersama wilayah Iain di bagian timur P.Belitung, kawasan ini kini membentuk pemerintah sendiri  dengan nama Kabupaten Belitung Timur, pada tahun 2003. Secara umum, dimulainya penambangan timah kolonial menjadi titik tolak kebangkitan kota-kota di Belitung dalam pengertian fisik maupun sosial. Perkembangan ini berlangsung dalam beberapa fase:
Fase awal adalah tahun 1853, yang diprioritaskan pada penyediaan sarana pokok berupa gudang- gudang dan jalan, sementara orang Belanda masih tinggal di benteng;

  • Fase kedua setelah berdirinya NV Billiton Mij tahun 1860 yang difokuskan pada pembangunan fasilitas utama berupa bangunan perusahaan, perkantoran pemerintah, jalan dan perumahan;
  • Fase ketiga antara tahun 1868 sampai 1870, dibangun berbagai fasilitas publik antara lain pasar, dermaga, mesjid, sekolah, rumah sakit, societeit. Di Manggar dibangun electric centrum dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Orang-orang Cina kaya juga mulai membangun rumah-rumah besar yang menonjolkan arsitektur oriental pada fase ini;
  • Fase keempat tahun 1920-an setelah berdirinya NV.GMB, Iebih bersifat pemekaran dan terutama diarahkan pada penambahan sarana perumahan pegawai perusahaan. GMB juga mendirikan lembaga kesehatan untuk pribumi, sekolah rakyat di desa-desa, bioskop, dan ambachcursus (sekolah teknik) di Manggar.

RUNTUHNYA KEKUASAAN LOKAL

Penemuan dan penambangan timah Belanda di Belitung telah mengubah wajah pulau ini dalam arti yang sebenarnya. Kemajuan timah tidak hanya memunculkan kota-kota modern, namun juga mengakhiri kekuasaan tradisional yang telah lebih dulu eksis. Kematian Depati terakhir pada 1873 yang diikuti dengan penghapusan pangkat Depati pada tahun tersebut mengawali pudarnya kekuasaan Kerajan Balok di tanah Belitung. Tanjungpandan kemudian dikepalai oleh Ngabehi, sampai gelar ini pun dihapus tahun 1890. Selanjutnya Tanjungpandan kemudian dipimpin oleh kepala distrik yang dipilih dari kerabat dekat depati. Kaum bangsawan harus kehilangan hak-hak istimewa mereka dan menjadi pegawai yang digaji oleh pemerintah kolonial.

MASA AWAL KEMERDEKAAN

PENDUDUKAN JEPANG

Jepang menyerang Belitung dengan pesawat udara pada 28 Februari 1942, dan sudah menduduki Belitung pada 10 April 1942. Orang-orang Belanda di-internir dan Demang Belitung Barat, KA M.Joesoaf ditunjuk sebagai pengganti wakil asisten residen yang bertanggung jawab kepada komandan militer jepang. Dalam tahun 1943, lepang mclakukan berbagai perubahan, antara lain:

  1. NV GMB diganti menjadi Mitsubishi Kogyaka Keiha (MKK),
  2. Tambang Selumar yang ditutup pada 1930, dibuka kembali untuk menggali biji besi dan tembaga.
  3. Perladangan digiatkan dan di Perpat diadakan kursus tanam padi.
  4. Pelabuhan bebas tanpa bea sehingga perniagaan berkembang, kapal-kapal bermuatan 50 ton keatas dibangun di Belitung, dan di manggar dibuka sekolah pertukangan perahu.
  5. Guru-guru sekolah dikirim ke Bangka untuk dididik.
  6. Pembangunan lapangan udara dirintis di Buluh Tumbang.

Pada permulaan tahun 1945 Jepang membentuk Badan Kebaktian Rakyat, namun badan ini belum sempat bekerja dan dibubarkan ketika Jepang menyerah kepada sekutu 14 Agustus 1945. September 1945 Jepang meninggalkan Belitung tanpa menyerahkan kekuasaan kepada siapapun.

PERLAWANAN BERSENJATA RAKYAT BELITUNG

Berita kemerdekaan Indonesia baru diumumkan kepada rakyat Belitung Barat pada 16 Oktober 1945,di gedung HIS di Tanjungpandan. Keesokan harinya dibentuk Komite Nasional Indonesia. Tanggal 21 Oktober 1945, kapal HMS Admiral Tromp yang membawa NICA mendarat di Pelabuhan Tanjungpandan, dan langsung menduduki kantor polisi, tangsi militer, kantor telegraf, rumah sakit, dan menurunkan bendera merah putih. Beberapa pemimpin perjuangan ditahan di Hotel Pantai di Tanjungpendam yang menjadi markas NICA. Tanggal 23 Nopember 1945 di Sijuk dibentuk Laskar Rakyat setara TKR, dipimpin oleh Mad Daud. Dalam perjuangan mempertahankan kemedekaan Indonesia di Belitung, telah terjadi kontak senjata antara Laskar Rakyat melawan NICA di beberapa tempat.

MASA KEMERDEKAAN

Pulau Belitung sebagai bagian dari Residensi Bangka – Belitung, beberapa tahun lamanya pernah menjadi bagian dari Gewest Borneo, kemudian menjadi bagian Gewest Bangka – Belitung dan Riau. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena muncul peraturan yang mengubah Pulau Belitung menjadi Neolanchap. Selanjutnya sebagai badan pemerintahan dibentuklah Dewan Belitung pada tahun 1947. Pada waktu pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), Neolanchap Belitung merupakan negara tersendiri, bahkan karena sesuatu hal tidak menjadi negara bagian. Tahun 1950 Belitung dipisahkan dari RIS dan digabungkan dalam Republik Indonesia. Pulau Belitung menjadi sebuah kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Sumatera Selatan dibawah kekuasaan militer, karena pada waktu itu Sumatera Selatan merupakan Daerah Militer Istimewa. Sesudah berakhirnya pemerintahan militer, Belitung kembali menjadi kabupaten yang dikepalai oleh seorang Bupati.[2]

SETELAH TAHUN 2000

Pada tanggal 21 November 2000, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000, Pulau Belitung bersama dengan Pulau Bangka memekarkan diri dan membentuk satu provinsi baru dengan nama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi ini merupakan provinsi ke-31 di Indonesia. Berdasarkan aspirasi masyarakat dan berbagai pertimbangan, Kabupaten Belitung dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung beribukota di Tanjungpandan dengan cakupan wilayah meliputi 5 kecamatan dan Kabupaten Belitung Timur dengan Manggar sebagai ibukotanya dengan cakupan wilayah meliputi 4 kecamatan.